
Selasa, 30 Desember 2014
Atau jangan-jangan saya bertipe dengan mereka?
Sejujurnya jarang pakai banget hujat atau bully orang kalau bukan sobat dekat, toh jikalau dengan sobat sudah sama-sama tau kalau itu hanya bercanda. Berbeda ketika menghujat orang lain yang tidak dikenal, yang ada malah salah dan sanggup berujung saling bunuh-membunuh.
Kelucuan komentar sampah netizen, khususnya netizen Indonesia ini kalau mau diambil positifnya ya buat hiburan semata saja. Tidak akan saya share, jikalau ada postingan yang isinya saling hujat ditambah postingan si TS memang berniat sabung domba. Kecuali kalau ada komentar jelek alasannya ialah salah menangkap maksud dari si TS, bakal tetap saya share jikalau memang postingan TS ialah baik berdasarkan PKn.
Maraknya postingan satire menciptakan banyak netizen jadi geram. Padahal yang namanya satir niscaya niatnya hanya bercandaan, jikalau tidak bercanda berarti sebuah kritik membangun yang perlu dipahami sungguh-sungguh semoga tidak tersulut emosi. Tapi ya mau bagaimana lagi, kapasitas menangkap gosip dan kecerdasan berpikir tiap individu kan memang beda. Yang satir malah dianggap serius dan jadinya postingan TS selalu menerima respon negatif dari netizen, bahkan oleh netizen yang "seiya" (sama pandangan) tapi tak pernah berpikir.
Lucu bukan berarti lucu 100%
Sebenarnya saya sangat menyayangkan ketika ada postingan baik, tapi malah direspon negatif. Ya siapa lagi kalau yang berkomentar ialah orang-orang kontra dengan isi postingan si TS. Contoh saja ketika postingan itu berisi si A sedang melaksanakan kunjungan sosial di panti asuhan, namun ternyata dilihat oleh pendukung B, tentu pendukung B banyak yang komen bahwa si A sedang pencitraan dan sebagainya.
Jikalau tidak suka sanggup dengan menganggap postingan itu angin lalu, atau buat postingan tandingan, jadinya kan fair?
Bully atau menghujat bukan kebiasaan
Ada yang beranggapan bahwa netizen Indonesia berkebiasaan suka berkomentar nyinyir. Kalau mau mengamati lebih lama, bahwasanya orang-orang yang suka menghujat ya itu-itu saja, dengan memakai akun fake. Malu dianggap orang hina jikalau pakai akun orisinil jikalau berkomentar buruk. Yak lebih tepatnya netizen banci! Di kehidupan faktual rajin ibadah, tapi di dunia maya sukanya nyinyir. Bahkan mungkin lebih banyak nyinyirnya daripada beribadah :p
Tapi saya tahu
Orang Indonesia itu berani ceriwis hanya di media umum atau dunia maya saja, jikalau di dunia faktual orangnya kalem-kalem. Bisa kita lihat ketika orang-orang yang terciduk polisi alasannya ialah mengeluarkan komentar yang menyalahi norma hukum, banyak dari terciduk yang nangis atau bermuka melas ketika diciduk, ada yang minta maaf. Bahkan ada yang tidak tega melihat muka netizen ketika diciduk alasannya ialah sudah minta maaf, alasannya ialah memang kalem.
Ya itulah lika-liku netizen. Bahkan di negara lain pun juga sama.
Masih menganggap lucu?
Saya sih masih :p
Sumber https://www.andisyam.web.id/
Share This :
comment 0 Comment
more_vert