MASIGNCLEAN101

Cara Gampang Menemukan Pembeli Yang Tepat

Cara Gampang Menemukan Pembeli Yang Tepat
Jumat, 15 Maret 2013
Melanjutkan artikel kemarin yang sudah saya simpulkan bahwa ternyata bukan soal apa jenis produk yang akan dijual, tapi mengenai bagaimana kita menjualnya.

Nah, Pertanyaanya yaitu bagaimana menemukan pembeli yang terpat sesuai harga dan produk yang kita miliki. Kang Wira yaitu salah satu orang yang memiliki keyakinan tinggi bahwa setiap produk itu ada pembelinya. Kita hanya perlu menemukannya saja.

Kalaupun ada produk yang akan busuk atau rusak sebelum laku, bukan berarti produk itu tidak punya pembeli, tapi waktu yang diperlukan pembeli mendatangi produk itu kalah cepat dibanding dengan masa kadaluarsa produk tersebut.



Kenapa saya memiliki keyakinan ibarat itu? Karena saya sudah melihat berbagai produk yang hadir silih berganti dan berdasarkan saya yaitu produk-produk itu tidak akan laris dipasaran.

Siapa juga yang mau beli produk gituan?

Tapi ternyata prediksi saya meleset, tidak perdulil betapa bergunanya produk tersebut, ternyata ada saja yang pembelinya. Karena Seseorang membeli produk itu biasanya punya bebeerapa alasan contohnya sebagai berikut :

Baca juga: Jangan Lihat Produk Tapi Lihat Cara Menjual


  • Butuh
  • Terpaksa
  • Mumpung

Pembeli yang Butuh

Type pertama yaitu pembeli yang butuh. Biasanya untuk produk-produk ibarat sembako atau produk yang berafiliasi dengan sekolah dan lainnya.

Intinya produk-produk yang memang diperlukan oleh setiap orang, tapi ada juga produk-produk yang diperlukan oleh kantor, contohnya alat tulis, kertas fotocopy dan lain sebagainya.

Punya pembeli type ini bahwasanya enak, alasannya mereka akan beli, beli dan beli terus selama beliau butuh. Tapi mendapatkannya juga tidak mengecewakan menyita energi.

Kita harus bikin beliau nge-fans berat dengan kita. Beberapa trik yang sering digunakan oleh pedagang sayur contohnya yaitu dengan sharing resep-resep masakan.

Misalnya beliau mengatakan ikan, "Mari bu, ikan bandengnya masih segar. Udah pernah bikin bandeng asam manis? Gampang lho, tinggal ngasih bumbu ini dan itu, jadi deh bandengnya. Ntar saya filled-kan deh biar ibu tinggal goreng dan kasih bumbu aja".

Ada juga pedagang sayur yang perhatian sama keluarga ibu2 langganannya.

Misalnya ada yang anaknya sakit, besok pas tiba eksklusif ditanyain kabarnya, gimana kabar anaknya bu, apa sudah baikkan? Kalau belum ada temen saya yang dulu anaknya sakit gitu, dikasih obat ini dan itu alhamdulillah sembuh lho. Mungkin sanggup dicoba.

Dan seterusnya...

Kalau beberapa minimarket mengatakan kartu membership. Sebenarnya elok sih kartu ini kalau sering2 ada bonus bagi pemilik kartu. Cuma akhir-akhir ini, fungsi kartu itu nyaris gak ada sama sekali.

Bonus gak ada, diskon jg tidak bahkan sistem point aja mereka ogah. Dulu saya punya sebuah kartu minimarket, balasannya ya saya buang aja wong gak ada gunanya juga.

Baca juga: Cara Memilih Produk Untuk Dijual


Pembeli Terpaksa

Type kedua yaitu pembeli terpaksa, berdasarkan saya faktor keberuntungannya cukup besar sih. Walaupun bahwasanya sanggup juga ada turut campur penjual dalam hal ini.

Contohnya pedagang mainan di tempat-tempat wisata. Ketika melihat belum dewasa jalan sendiri, beliau memanggilnya dan menyodorkan mainan. "Ini lho, ambil.." sambil memainkan mainan itu dengan asyiknya.

Namanya belum dewasa sudah niscaya akan tertarik dan serunya ada 2 type anak ketika mendapat mainan. Pertama, mempertahankan, bahkan hingga nangis-nangis. Type kedua, praktis dibujuk sehingga mau mengembalikan.

Tapi dalam situasi ramai begitu dengan kemudian lalang orang yang banyak, biasanya gengsi orang bau tanah lebih mahal daripada harga mainannya. Asal harganya wajar, kebanyakan niscaya akan beli.

Orang bau tanah belum apa-apa akan membayangkan, waduh kalau mainan ini saya minta dan kembalikan niscaya anak saya akan nangis dan malu-maluin punya anak merengek minta mainan gak dikasih.

Akhirnya daripada ribut, tuh ortu beli deh mainannya.

Pembeli terpaksa lain yaitu mereka yang terjebak di kemacetan. Macet berjam-jam di daerah yang tidak biasa, yaitu target empuk untuk menjual minuman atau makanan ringan.

Sebenarnya kalau pedagang asongan mau berkoordinasi, pedagang makanan disuruh berangkat dulu mengatakan dagangan. Nah, kalau ada yang beli, gres pedagang minuman yang berangkat.

Selain lebih rapi, peluang terbeli akan besar. Orang beli makan kan niscaya butuh minum.

Pembeli Mumpung

Big Sale - Ini type ketiga yaitu pembeli yang lapar mata. Mumpung ada diskon, mumpung harga banting, mumpung masih ada 2, mumpung murah, dan mumpung-mumpung yang lain.

Untuk pembeli type ini biasanya terjadi di bisnis garmen, caranya yaitu dengan menaikkan harga di ketika sepi. Misal harga aslinya 100ribu, kita naikkan jadi 300rb.

Tapi promosi masih ibarat biasa. Dengan demikian orang akan mengenal produk kita sebagai produk yang mahal. Nah, disaat ekspresi dominan pembeli ramai contohnya ketika lebaran, kita malah berikan diskon sehingga seakan-akan produknya beneran diskon dan murah.

Pembeli Mumpung niscaya akan menyerbu. Mereka pikir, kapan lagi sanggup mampu produk 300 ribu dengan harga cuma 150 ribu. Apalagi kalau ada ketentuan maksimal pembelian per pembeli, maka akan semakin menambah keyakinan bahwa produknya memang murah, buktinya gak boleh beli banyak-banyak.

Pasti penjualnya rugi besar kalau diborong semua. Yang terjadi, pembeli malah ngajak pembantunya, suaminya, anak-anak-nya untuk borong produk diskon 50% yang kita tawarkan. Mereka merasa berhasil mengelabuhi kita hehe.

Padahal, produk itu aslinya cuma berharga 100rb saja.

Nah Tips Cara Praktis Menemukan Pembeli Yang Tepat ini memang susah gampang. Karena disini kita harus benar-benar melihat peluang yang sangat sempit biar sanggup menemukan pembeli yang tepat.
Share This :

Related Post